Ada pameo yang sering kita dengar: menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia. Kita sering menganggap waktu tunggu sebagai ruang kosong yang tidak menghasilkan apa-apa. Namun hari ini, saya mengalami hal sebaliknya—bahwa menunggu justru bisa menjadi ruang kecil yang produktif dan penuh inspirasi.
Semua bermula ketika mobil kantor harus menjalani servis rutin. Saya membawanya ke bengkel resmi Toyota, dengan rencana awal: tinggalkan mobil, pulang, dan menunggu kabar selesai. Namun rencana itu berubah begitu saya melihat ruang tunggu yang mereka sediakan. Ruangannya nyaman, kursi empuk, tersedia kopi dan teh gratis, dan—yang paling penting bagi saya—ada area khusus perokok.
Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di tempat itu.
Sambil menikmati secangkir kopi panas, saya membuka laptop dan menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor. Namun di sela-sela itu, ada dorongan kuat untuk membuka kembali beberapa draft tulisan sejarah yang sempat terbengkalai. Saya mulai membaca catatan lama tentang tokoh lokal dan cerita rakyat, lalu merapikan beberapa ide yang sejak lama menggantung.
Dalam jeda singkat ini, saya bahkan meninjau ulang beberapa catatan tentang La Pallawagau Datu Pattojo, salah satu tokoh lokal yang kisahnya tengah saya dalami.
Sebagai penikmat sejarah, saya menyadari bahwa proses menulis tidak selalu membutuhkan ruang sunyi dan waktu khusus. Terkadang inspirasi muncul di tempat-tempat tak terduga—di ruang tunggu bengkel, di sudut kafe, atau bahkan di perjalanan. Dalam momen menunggu seperti ini, pikiran kita justru punya kesempatan untuk berjalan lebih perlahan, mencari hubungan-hubungan baru, dan menemukan kembali semangat untuk menyelami masa lalu.
Waktu satu jam lebih terasa sangat cepat. Mobil selesai diservis, dan saya pulang dengan dua hal sekaligus: kendaraan yang kembali prima dan semangat menulis yang ikut terisi ulang. Ternyata, jeda sederhana bisa menjadi ruang refleksi yang membantu saya melihat ulang benang merah dari tulisan-tulisan sejarah yang sedang saya kerjakan.
Kadang, inspirasi sejarah tidak hanya datang dari naskah tua, arsip, atau catatan lapangan. Ia bisa muncul dari pengalaman sehari-hari—bahkan dari ruang tunggu bengkel yang terlihat biasa saja. Menunggu, yang selama ini kita anggap membosankan, ternyata bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan menulis yang penuh makna.
