Pattojo adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa ini dikenal karena sejarahnya sebagai salah satu wilayah adat Bugis yang dipimpin oleh figur-figur lokal seperti Datu Pattojo, termasuk tokoh La Pallawagau yang menjadi bagian penting dalam cerita rakyat dan budaya setempat.
La Pallawagau—atau Datu Pattojo—adalah tokoh Bugis dari wilayah Pattojo, Soppeng. Ia dikenal dalam cerita rakyat sebagai pemimpin bijaksana, penjaga adat, dan sosok yang dihormati masyarakat. Kisahnya menggabungkan unsur legenda dan jejak sejarah lokal Bugis.
Cerita rakyat Bugis selalu memiliki daya tarik tersendiri. Di balik kisah-kisah itu, tersimpan jejak sejarah, petuah, dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tokoh yang paling sering disebut dalam legenda Bugis–Soppeng adalah La Pallawagau, sosok yang dikenal luas sebagai Datu Pattojo.
Dalam sejarah Bugis, beberapa tokoh lain seperti Arung Palakka dan Arung Pattojo juga tercatat dalam legenda masyarakat.
Meskipun kisahnya tidak setenar tokoh besar seperti Arung Palakka atau La Galigo, La Pallawagau justru menarik karena cerita yang melekat padanya lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan hubungan manusia dengan adat.
Siapa La Pallawagau?
La Pallawagau adalah seorang tokoh daerah yang dipercaya sebagai Datu Pattojo, pemimpin yang memegang peran penting di wilayah Pattojo, Soppeng. Banyak kisah yang menyebut beliau memiliki sifat adil, tenang, dan bijaksana, sehingga dihormati oleh masyarakatnya.
La Pallawagau Datu Pattojo Petta Ponggawa Bone Addatuang Sawitto adalah anak dari pasangan suami istri La Makkulawu Arung Gilireng dan I Madditana Arung Rappang.
Dalam cerita rakyat, nama La Pallawagau sering muncul ketika orang tua Bugis bercerita tentang pemimpin masa lalu yang dihargai tidak karena kekuasaan, tetapi karena sikapnya yang mengayomi.
Siapa La Pallawagau ini? Beliau pernah menjabat sebagai Datu Pattojo dan juga sebagai Ponggawa Bone pada masa transisi pemerintahan kerajaan Bone. Dari Raja Bone ke 28 We Pancaitana Besse Kajuara ke Raja Bone ke 29 La Singkerru Rukka.
Pattojo: Sebuah Wilayah dengan Jejak Sejarah
Pattojo berada di Kabupaten Soppeng, wilayah yang kaya sejarah dan budaya. Di daerah ini, banyak peninggalan dan kisah masa lalu yang masih terpelihara. Pattojo bukan hanya nama tempat — ia adalah bagian dari identitas masyarakat Bugis.
Jika ingin memahami konteks wilayahnya, baca juga tentang Asal Usul Kerajaan Soppeng.
Dalam struktur pemerintahan adat Bugis, wilayah seperti Pattojo biasanya dipimpin oleh seorang datu atau arung, yang memiliki otoritas untuk menjaga ketertiban, adat, dan hubungan antar-komunitas. La Pallawagau berada dalam garis kepemimpinan tersebut.
La Pallawagau dalam Cerita Rakyat Bugis
Dalam versi cerita rakyat, La Pallawagau dikenal sebagai pemimpin yang selalu mengutamakan musyawarah. Ia sering digambarkan sebagai sosok yang mampu meredakan konflik dan menyatukan masyarakat pada masa yang penuh tantangan.
Beberapa kisah penting tentang beliau mencakup:
1. Sosok yang Adil dan Tenang
Warga Pattojo mempercayai La Pallawagau sebagai pemimpin yang jarang mengambil keputusan tergesa-gesa. Ia mendengar kedua belah pihak sebelum menegakkan aturan adat.
2. Penjaga Adat Bugis
Dalam cerita rakyat, beliau sering digambarkan sebagai “penjaga adat”, yaitu pemimpin yang menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan nilai-nilai budaya.
3. Figur yang Dihormati oleh Tetangga Wilayah
Sejumlah cerita menyinggung bahwa tetangga-tetangga Pattojo menghormati La Pallawagau sebagai pemimpin yang dapat dipercaya, sehingga ia sering menjadi penengah antar-kampung.
Datu Pattojo: Antara Legenda dan Sejarah
Sebagian kisah La Pallawagau mungkin dibumbui oleh unsur legenda — hal yang wajar terjadi pada tokoh adat Bugis. Namun, inti ceritanya sering kali memiliki dasar historis: tentang seorang datu yang memimpin dengan hati.
Dalam catatan keluarga maupun cerita lisan masyarakat Soppeng, nama La Pallawagau cukup sering disebut ketika membahas pemimpin masa lalu di Pattojo. Meski tidak seluruh catatan tertulis lengkap, ingatan kolektif masyarakat masih menyimpan jejak tentang beliau.
Warisan La Pallawagau bagi Masyarakat Bugis
Warisan terpenting dari La Pallawagau mungkin bukan berupa bangunan atau benda sejarah, tetapi nilai:
- kepemimpinan yang mengayomi
- keadilan dalam mengambil keputusan
- kesetiaan pada adat Bugis
- mengutamakan persatuan
Nilai-nilai ini masih ditegaskan dalam banyak petuah Bugis seperti mappasiluka (saling memahami) dan mappasitinaja (menempatkan sesuatu pada tempatnya).
Apakah Makam La Pallawagau Masih Ada?

Beberapa masyarakat Pattojo meyakini bahwa makam tokoh yang disebut sebagai La Pallawagau masih dapat ditemukan di wilayah Sawitto, meski tidak semua sumber sepakat. Hal ini menarik bagi peneliti sejarah lokal yang ingin menelusuri kembali jejak pemimpin Bugis dari masa lampau.
Walaupun masih misteri, penulis sempat berkunjung ke “makam” beliau yang letaknya tepat di depan masjid tua jampu’e.
Dari cerita rakyat yang menarik adalah bahwa makam La Pallawagau ini sudah beberapa kali abrasi sehingga mengalami perubahan bentuk.

Penutup: Menjaga Cerita, Menjaga Identitas
Kisah La Pallawagau — Datu Pattojo — adalah contoh bagaimana cerita rakyat bukan sekadar dongeng, tetapi memuat sejarah, nilai budaya, dan kebijaksanaan hidup. Dengan menuliskannya kembali, kita menjaga warisan itu agar tetap hidup dan dikenal generasi yang akan datang.
Jika Anda memiliki versi cerita lain tentang La Pallawagau, Anda bisa menuliskannya di kolom komentar. Cerita rakyat akan tetap hidup ketika kita terus menjaganya.
FAQ
Pattojo berada di Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan
La Pallawagau adalah tokoh legendaris Bugis yang dikenal sebagai Datu Pattojo, seorang pemimpin berpengaruh dalam sejarah dan budaya Bugis.
Karena kisahnya mengandung nilai moral dan menjadi bagian penting dari sejarah serta identitas masyarakat Bugis.
