Saoraja Pattojo bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan saksi bisu kejayaan Kedatuan Pattojo yang penuh dengan filosofi. Salah satu hal menarik yang mungkin luput dari perhatian kita adalah pagar yang mengelilinginya saat ini.
Filosofi Tanpa Pagar
Dahulu, Saoraja Pattojo dibangun tanpa pagar oleh Datu Tola (Datu Sumangerukka). Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Beliau menginginkan tidak ada sekat antara penguasa (Datu) dengan rakyatnya. Namun, demi menjaga kebersihan cagar budaya dari gangguan hewan liar, sebuah pagar indah akhirnya dibangun dengan rancangan modern namun tetap memegang teguh akar tradisi
Motif Gonci Sikoi: Hubungan Pattojo dan Luwu
Pagar yang kita lihat sekarang dirancang oleh seorang ahli teknik sekaligus Wija, dengan menggunakan motif Gonci Sikoi. Menariknya, motif ini merupakan corak khas dari Kedatuan Luwu. Penggunaan motif ini bukanlah kebetulan, melainkan penghormatan terhadap garis keturunan Datu Tola yang berasal dari Luwu.
Proses perancangannya pun tidak sembarangan, karena melibatkan akademisi dari UNM untuk memastikan nilai cagar budayanya tetap terjaga. Ini adalah perpaduan antara penghormatan sejarah masa lalu dan upaya pelestarian di masa kini.
Pesan untuk Wija
Melalui detail pagar ini saja, kita bisa belajar bahwa setiap sudut Saoraja memiliki cerita tentang hubungan kekerabatan antar-kerajaan besar di Sulawesi Selatan dan kasih sayang Datu kepada rakyatnya.
Bagi keluarga yang ingin mendukung, silakan Berikan Apresiasi di Sini
