La Wana, Datu Terakhir Soppeng
Tak banyak orang tahu bahwa Datu terakhir Soppeng punya peran penting dalam masa peralihan dari kerajaan ke republik. Sosok itu adalah La Wana, pemimpin yang dikenal bijak namun tegas dalam menjaga martabat rakyat dan adat Bugis di tanah Soppeng.
Salah satu warisan yang bisa kita nikmati hingga sekarang adalah kuliner Roti Lenggang.
Pada masa pemerintahannya, Soppeng masih memegang teguh adat istiadat. Kehidupan masyarakat diatur oleh nilai-nilai siri’ na pesse, yang menjadi dasar kehormatan orang Bugis. La Wana berusaha mempertahankan sistem tradisional ini di tengah perubahan zaman.
Sebelum membaca lebih jauh, kamu bisa juga mengenal lebih dulu Silsilah Datu Pattojo untuk memahami asal-usul para pemimpin Soppeng terdahulu.
Asal-Usul dan Silsilah La Wana
Kali ini saya mencoba mengulas Kedatuan Soppeng dengan mengangkat sosok kharismatik yang menjadi Datu atau raja terakhir Soppeng, pada masa peralihan dari kerajaan menuju republik.
Sosok tersebut adalah La Wana Datu Soppeng terakhir, seorang pemimpin yang dikenal bijaksana dan tenang dalam menghadapi gejolak zaman. Beliau merupakan putra dari La Pabeangi Arung Ganra Sulledatu Soppeng, Datu Soppeng sebelumnya, dengan ibu We Tenri Sui Sitti Zaenab Datu Watu Arung Lapajung Patola Wajo Datu Soppeng XXXV.
La Wana merupakan salah satu tokoh penting dalam garis keturunan Datu Soppeng. Silsilah lengkapnya dapat dibaca dalam artikel ini. Silsilah Keturunan Datu Soppeng.

Permaisuri dan Keturunan
Sepanjang hidupnya, La Wana dikenal hanya memiliki seorang permaisuri, yakni We Aisyah Arung Padali., seorang perempuan bangsawan yang dikenal lemah lembut namun berwibawa. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai beberapa keturunan yang kemudian menjadi penerus keluarga besar Datu Soppeng dan menjaga nilai-nilai leluhur hingga kini.

Salah satu cucu beliau adalah istri penulis sendiri, Hj. A. Isa Tenri Sumpala.
Peran di Masa Peralihan ke Republik
Dalam masa peralihan dari sistem kerajaan ke pemerintahan republik, La Wana memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas daerah. Masa itu bukanlah masa yang mudah — pergerakan politik, pergolakan sosial, hingga pemberontakan lokal sempat mengguncang tatanan masyarakat. Namun dengan kebijaksanaan dan wibawanya, rakyat Soppeng tetap bersatu dan melalui masa sulit tersebut dengan relatif aman dan damai.
Kesetiaan beliau kepada rakyat dan republik tercinta membuatnya diangkat sebagai Bupati Pertama di Kabupaten Soppeng. Periode pertamanya menandai pula peralihan dari Afdeling Bone menjadi republik.
Hingga saat ini, istana beliau — atau yang disebut Salassaé Datu Soppeng — masih berdiri kokoh di jantung Kota Soppeng. Bangunan ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang Kedatuan Soppeng. Di pelatarannya, masih tumbuh tegak pohon asam tua, rumah bagi ribuan kelelawar yang menjadi ciri khas kota ini. Suara riuh mereka di senja hari seakan menghidupkan kembali kenangan masa lalu tentang kejayaan Soppeng.
Soppeng memang kota kecil, tetapi menyimpan begitu banyak kisah sejarah dan kebanggaan yang tak ternilai. Di antara lembah dan bukitnya, tersimpan jejak perjuangan, kearifan, dan keagungan para Datu yang telah membentuk identitas masyarakatnya hingga kini.
Mari Lestarikan Sejarah Kita
Jejak para Datu bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi warisan yang membentuk jati diri Soppeng hingga hari ini.
Kalau Anda punya catatan, foto lama, atau kisah turun-temurun tentang keluarga bangsawan Soppeng — silakan berbagi di kolom komentar atau bisa langsung menghuhungi penulis. Ini bisa menambah khazanah kita dalam melihat sejarah kedatuan soppeng.
Karena sejarah tidak hanya untuk diingat, tetapi juga untuk diteruskan.
Catatan Penutup
Kisah La Wana bukan sekadar sejarah, tapi juga pengingat tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Menelusuri jejak silsilah La Wana memberikan kita gambaran betapa berharganya menjaga sejarah keluarga. Di era modern ini, kita juga bisa melengkapi riset silsilah tradisional dengan pembuktian ilmiah melalui tes DNA. Saya merekomendasikan AncestryDNA Kit yang tersedia di Amazon untuk memetakan asal-usul genetik dan menemukan hubungan kekerabatan yang mungkin belum tercatat dalam buku silsilah.
Kalau kamu suka kisah-kisah sejarah lokal seperti ini, jangan lupa baca juga artikel terkait di atas ya
— Sebagai anggota Amazon Associate, saya mendapatkan komisi dari pembelian yang memenuhi syarat.

Perkenalkan saya 4 tahun lalu saya diwariskan naskah oleh keluarga kakek saya silsilah itu di mulai dari
La Kuneng menikah dengan We Tenri Arung singkang lahirlah La Pabeangi ( Cella Belawa) hingga sampai ke cucunya La Manggiling Petta Madokoe (P. Batti) setelah itu terputus/terpisah dengan silsilah dari generasi nenek hingga saya, yang jadi pertanyaan adakah naskah/silsilah yang tercantum di lontaraq La Manggiling Petta Madokoe (P.Batti) yang penulis tahu agar saya melengkapi silsilah saya
Terima kasih sudah berbagi cerita dan informasi silsilahnya.
Terkait La Manggiling Petta Madokoe (P. Batti), sejauh pengetahuan dan sumber yang saya gunakan dalam penulisan artikel ini, saya belum menemukan lontaraq yang secara jelas dan lengkap mencantumkan kesinambungan silsilah beliau hingga generasi berikutnya secara utuh.
Dalam banyak lontaraq, silsilah sering kali terputus di generasi tertentu atau berbeda antar naskah dan wilayah. Karena itu, sangat mungkin terdapat manuskrip keluarga atau lontaraq lokal yang belum terdokumentasi luas.
Jika ke depan ada referensi lontaraq atau naskah tertulis yang bisa dibagikan, tentu akan sangat berharga untuk melengkapi dan memperkaya pemahaman bersama tentang silsilah ini.