Ada rasa yang selalu muncul setiap kali kaki ini menapak di Kota Surabaya. Entah karena hiruk pikuknya yang khas, keramahan warganya, atau mungkin kenangan dua tahun lalu saat pertama kali menghadiri kegiatan Asdeksi di Kota Surabaya. Perjalanan kali ini seperti memutar kembali memori yang dulu tersimpan rapi. Bedanya, kali ini saya tidak sendiri โ keluarga ikut serta. Jadilah perjalanan dinas yang sekaligus menjadi momen berharga untuk melepas penat dan menikmati waktu bersama.

Kembali ke Surabaya dan Asdeksi yang Selalu Berkesan
Jelang akhir tahun 2025, workshop Asdeksi kembali digelar di Surabaya, dan tempatnya pun masih sama: Hotel Vasa. Saat mendapat surat tugas, saya langsung teringat suasana dua tahun silam โ hotel megah dengan pelayanan yang ramah dan makanan yang bikin susah lupa.
Perjalanan dimulai dari Soppeng menuju Makassar, sekitar lima jam perjalanan darat. Saya sengaja memilih waktu sore agar tak terlalu panas di jalan. Malamnya, kami menginap sebentar di Makassar sebelum terbang ke Surabaya keesokan paginya.

Kegiatan Asdeksi kali ini terasa berbeda. Mungkin karena sudah lebih matang sebagai ASN, atau karena suasananya lebih cair dengan peserta dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Banyak hal menarik yang dibahas, mulai dari tata kelola keuangan daerah hingga cerita seru dalam melayani para anggota dewan serta hubungan antara eksekutif yang kadang penuh drama. Meski padat, saya berusaha menikmati setiap sesi sambil tetap menjaga komunikasi dengan keluarga yang ikut berlibur.
(Baca juga: [Kembali ke Surabaya: Kilas Balik Kegiatan Asdeksi dan Cerita di Baliknya])
Perjalanan Bersama Keluarga ke Kota Pahlawan
Keputusan membawa keluarga ternyata tepat. Sejak berangkat jam lima pagi ke bandara, suasana sudah penuh tawa. Kami sudah menyiapkan semua perlengkapan sejak malam, jadi tak perlu terburu-buru pagi harinya. Si bungsu pun tampak antusias, apalagi ini pertama kalinya mereka ke Surabaya.

Setiba di Bandara Juanda, udara sejuk langsung menyambut. Berbeda dari bayangan kami tentang Surabaya yang biasanya panas. Mungkin karena hujan semalam, jalanan terasa bersih dan tidak terlalu ramai. Perjalanan dari bandara menuju hotel terasa menyenangkan. Sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan kota yang terus berkembang pesat.
(Baca juga: [Dari Bandara ke Kota Pahlawan: Serunya Perjalanan Bersama Keluarga ke Surabaya])
Hotel Vasa Surabaya: Nyaman untuk Dinas, Seru untuk Keluarga
Begitu tiba di Hotel Vasa, suasana hangat langsung terasa. Interiornya elegan, pelayanan cepat, dan kamarnya luas โ cocok untuk keluarga. Yang paling saya suka adalah sarapan paginya. Pilihan menunya beragam, dari makanan khas Indonesia hingga camilan ringan tersaji lengkap di atas meja.

Malam harinya, ketika kegiatan Asdeksi selesai, saya sempat menikmati secangkir kopi di lounge hotel sambil menatap lampu kota dari lantai atas. Ada perasaan tenang yang sulit dijelaskan. Seolah Surabaya tahu cara membuat tamunya merasa diterima, bahkan ketika datang untuk urusan pekerjaan.

(Baca juga: [Review Hotel Vasa Surabaya: Nyaman untuk Dinas, Seru untuk Keluarga])
Berburu Kuliner: Dari Kopi Tiam 88 hingga Kedai Legendaris
Tak lengkap rasanya berkunjung ke Surabaya tanpa mencicipi kuliner khasnya. Di sela agenda, saya sempat menyempatkan waktu berburu kuliner bersama keluarga. Salah satu tempat yang langsung mencuri perhatian adalah Kopi Tiam 88 โ warkop jadul yang kental dengan nuansa oriental.

Begitu masuk, aroma kopi menyeruak berpadu dengan alunan musik Mandarin lama. Dindingnya penuh pernak-pernik khas Tionghoa, membuat suasana seperti melangkah ke masa lalu. Saya memesan kopi tarik, sedangkan istri memilih nasi timbel yang porsinya lumayan besar. Rasanya? Nikmat! Ada cita rasa klasik yang jarang ditemukan di tempat lain.

Selain itu, kami juga mampir ke beberapa kedai lain seperti Kedai Jaya Super Tiam. Di sini, kopi tiam disajikan dengan busa tebal dan rasa yang kuat โ cappuccino versi jadul, begitu saya menyebutnya. Cocok untuk menemani malam sambil berbagi cerita.
(Baca juga: [Berburu Rasa di Surabaya: Dari Kopi Tiam 88 hingga Kedai Legendaris])
Tetap Fit dengan Nutrilite di Tengah Padatnya Agenda
Perjalanan dinas sering kali melelahkan, apalagi kalau harus membagi waktu antara kegiatan resmi dan waktu keluarga. Untungnya saya punya cara sederhana untuk tetap fit: membawa suplemen Nutrilite dari Amway.
Setiap pagi sebelum sarapan, saya minum vitamin C dan Salmon Omega 3, biar stamina tetap terjaga. Bukan promosi berlebihan, tapi memang terasa bedanya โ badan tidak mudah lelah meski jadwal padat. Apalagi dengan cuaca Surabaya yang kadang cepat berubah, daya tahan tubuh memang harus dijaga.
(Baca juga: [Tetap Fit Saat Dinas: Cerita Suplemen Nutrilite di Perjalanan Panjang])
Refleksi: Antara Dinas, Keluarga, dan Rasa
Perjalanan ke Surabaya kali ini bukan sekadar urusan kerja. Ada makna lebih dalam yang saya bawa pulang โ tentang keseimbangan. Bahwa di balik kesibukan sebagai ASN, kita tetap butuh ruang untuk menikmati hidup, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan meresapi rasa di setiap langkah perjalanan.

Kota Pahlawan selalu punya caranya sendiri untuk mengajarkan hal itu. Dari panas teriknya yang menyala, dari secangkir kopi yang disajikan dengan senyum, hingga dari kesibukan yang tetap terasa hangat.
Saya menutup perjalanan ini dengan rasa syukur. Karena di setiap perjalanan, selalu ada pelajaran baru. Dan Surabaya, sekali lagi, memberi saya banyak hal untuk dikenang โ bukan hanya catatan dinas, tapi juga cerita keluarga dan rasa yang akan selalu saya ingat.
