Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hobi menulis bisa menjadi obat penghilang stres. Tapi itulah yang benar-benar saya rasakan. Saat sekian waktu tidak aktif menulis, otak seperti kehilangan kelenturannya. Pikiran terasa kaku, mudah stres, dan konsentrasi pun jadi sangat sulit dijaga.
Lalu saya mencoba kembali menulis. Perlahan, kata demi kata mengalir. Aneh tapi nyata, tubuh terasa seperti “di-refresh”. Pikiran lebih ringan, hati lebih tenang, dan energi seakan kembali terisi. Dari situ saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: menulis itu sehat.
Tentu, mengembalikan konsentrasi bukan perkara mudah. Apalagi di tengah derasnya distraksi teknologi yang nyaris tak pernah berhenti. Notifikasi, media sosial, dan tuntutan pekerjaan sering kali membuat kreativitas mandek. Pekerjaan terasa berat untuk dituntaskan, fokus mudah terpecah.
Saya pun merasakannya. Karena itu, selain berusaha disiplin mengatur waktu dan kembali menulis, saya juga terbantu dengan kebiasaan kecil seperti mengonsumsi suplemen omega 3 agar tetap fokus dan tidak mudah lupa.
Namun, di atas semua itu, menulis tetap menjadi terapi paling jujur bagi saya. Tidak butuh alat mahal, tidak perlu validasi siapa pun. Cukup duduk, membuka pikiran, dan membiarkan kata-kata bekerja.
Kalau Anda belum percaya, tidak apa-apa. Coba saja sendiri.
