Rasa jenuh adalah hal yang wajar menghinggapi pikiran dan tubuh kita. Ada kalanya tubuh dan pikiran sama-sama menuntut untuk berhenti sejenak. Melupakan rutinitas sehari-hari, melepaskan beban pikiran, lalu memberi ruang untuk bernapas.
Banyak orang sebenarnya menerima sinyal seperti itu, tetapi tidak sedikit yang bingung harus berbuat apa. Pada akhirnya, rasa jenuh bisa memengaruhi kesehatan mental sekaligus membuat produktivitas menurun.
Bagi saya, situasi seperti ini justru menjadi pengingat untuk segera mencari jeda. Bukan dengan mengabaikan tanggung jawab, melainkan mencari aktivitas lain yang bisa mengalihkan rasa jenuh itu. Salah satunya adalah menulis.
Ya, menulis membantu saya melatih pikiran agar tetap fokus sekaligus mengisi waktu senggang dengan sesuatu yang terasa lebih bermakna.
Namun, kenyataannya tidak semudah mengucapkannya.
Sebagai seorang blogger, terkadang muncul godaan untuk menulis dengan target tertentu: mengejar artikel baru, mengejar pembaca, atau mengejar angka-angka yang terlihat di layar. Anehnya, semakin besar target itu, semakin sulit saya mulai menulis.
Pada akhirnya saya sadar bahwa menulis bukanlah sesuatu yang lahir dari settingan pikiran, apalagi dari target yang harus dicapai. Menulis adalah bentuk ekspresi. Ketika diberi ruang, pikiran akan mengalir dengan sendirinya. Dan di situlah, tanpa disadari, rasa jenuh perlahan menemukan jalannya untuk pergi.
