Sebagai putra daerah, ada rasa haru bercampur bahagia karena bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan sejarah Soppeng. Momen Hari Jadi Soppeng ke-765 kemarin semakin membuat saya semangat untuk tetap membuat catatan sejarah digital agar tak hilang dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
Namun, ada satu hal yang membuat saya tertegun saat membuka catatan statistik blog saya pagi ini. Di balik angka-angka yang melonjak, saya menemukan ribuan kunjungan datang dari saudara-saudara kita yang jauh di sana—khususnya dari Hong Kong.
Terlebih lagi, setelah melihat data statistik blog saya. Ternyata, banyak saudara kita dari Hong Kong hingga Malaysia yang mencari tahu silsilah keluarga mereka melalui catatan sederhana ini. Hal ini membuktikan bahwa jarak tidak pernah bisa memutuskan ikatan batin kita dengan tanah leluhur.
Akar yang Tak Pernah Putus
Melihat data tersebut, saya tersadar bahwa sejauh apa pun langkah kaki membawa kita merantau, “akar” tetaplah di Tanah Latemmamala. Bagi saudara-saudaraku yang mungkin sedang berjuang di negeri orang dan tidak sempat pulang saat perayaan hari jadi kemarin, tulisan-tulisan tentang silsilah dan nama-nama Datu Soppeng di blog ini adalah cara kita untuk tetap terhubung.
Sejarah bukan sekadar urutan nama atau tahun yang kaku. Bagi seorang perantau, sejarah adalah identitas. Ia adalah pengingat bahwa di darah kita mengalir semangat para leluhur yang tangguh. Membaca kembali silsilah Datu Soppeng adalah cara kita “pulang” sejenak di sela-sela kesibukan mencari nafkah.
Menjaga Warisan di Era Digital
Mengapa saya begitu bersemangat melakukan digitalisasi sejarah ini? Karena saya tidak ingin anak cucu kita nantinya kehilangan jejak. Di era digital ini, jika kita tidak menuliskan sejarah kita sendiri, maka sejarah itu perlahan akan memudar.
Saya ingin, kapan pun seorang anak muda Soppeng yang lahir di perantauan ingin tahu tentang asal-usulnya, mereka tinggal mencarinya di internet dan menemukan catatan yang akurat. Itulah kontribusi kecil saya untuk tanah kelahiran.
Apa yang Paling Anda Rindukan?
Hari Jadi Soppeng memang sudah lewat secara seremonial, tapi semangat untuk menjaga budaya tidak boleh padam. Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk Anda, para diaspora Soppeng, baik yang ada di Hong Kong, Malaysia, atau kota-kota lain di penjuru dunia.
Semoga catatan kecil di blog ini bisa sedikit mengobati rindu pada kampung halaman, pada suasana kota kalong, dan pada keramahan sesama orang Soppeng.
Mari Berbagi Cerita:
Bagi Bapak, Ibu, atau Saudara yang sedang merantau, bagian mana dari sejarah atau suasana Soppeng yang paling membuat kalian rindu? Silakan tuliskan di kolom komentar, mari kita menyambung silaturahmi di sini.
Ikuti update silsilah terbaru di Saluran WhatsApp saya klik di sini
Jika Bapak/Ibu menikmati catatan sejarah dan budaya di blog ini, Anda bisa memberikan apresiasi untuk mendukung keberlanjutan riset saya melalui:[Klik di Sini: Traktir Kopi untuk Penulis] Terima kasih untuk silesureng di perantauan (Malaysia, Hong Kong, dll) yang terus mendukung blog ini.
