Pernah dengar tentang kota yang bermula dari “kejaran” burung kakatua? Atau sebuah negeri yang pemimpin pertamanya bersumpah tidak akan makan nasi kalau berani korupsi? Selamat datang di sejarah singkat Kabupaten Soppeng!
Bukan cuma soal alamnya yang sejuk, Soppeng punya cerita panjang yang bikin kita makin bangga jadi bagian dari Bumi Latemmamala. Mari kita bahas santai sejarahnya!
Bermula dari Sastra Kuno La Galigo
Nama Soppeng ternyata bukan nama baru. Nama ini sudah disebut dalam La Galigo, sastra Bugis tertua di dunia. Konon, penduduk asli Soppeng itu berasal dari dua tempat utama: Sewo (yang disebut Tau Soppeng Riaja) dan Gattareng (Tau Soppeng Rilau). Jadi, dari dulu kita memang sudah punya dua pilar kekuatan yang menyatu.
“The Origin Story”: Sayembara Burung Kakatua
Dulu, sebelum ada sistem kerajaan yang rapi, Soppeng sempat mengalami masa sulit. Musim kemarau panjang bikin rakyat susah dan kacau di mana-mana.
Di sinilah muncul tokoh bernama Arung Bila. Saat lagi asyik musyawarah dengan 60 tokoh masyarakat (Matoa), tiba-tiba ada dua ekor burung kakatua yang berebut setangkai padi. Karena penasaran, Arung Bila menyuruh warga mengikuti ke mana burung itu terbang.
Petualangan itu berakhir di Sekkanyili. Di sana, mereka menemukan sosok berpenampilan indah yang sedang duduk di atas batu. Dialah yang kemudian kita kenal sebagai Manurungnge ri Sekkanyili atau La Temmamala, pemimpin pertama Soppeng.
Sumpah Lamungpatue: Anti Korupsi Sejak Dulu!
Nah, ini bagian yang paling keren. Saat diangkat jadi Datu (Raja) Soppeng pertama, La Temmamala nggak cuma sekadar dilantik. Beliau berdiri di atas batu bernama Lamungpatue dan mengucapkan sumpah yang bikin merinding:
Isi padi tak akan masuk melalui kerongkongan saya, bila berlaku curang dalam melakukan pemerintahan selaku Datu Soppeng.
Sebuah komitmen kejujuran yang luar biasa, kan? Nilai inilah yang jadi fondasi pemerintahan di Soppeng sampai sekarang.
Kenapa Ulang Tahunnya 23 Maret?
Mungkin ada yang penasaran, kok bisa pas tanggal 23 Maret 1261?
Penetapan ini hasil dari diskusi panjang para ahli sejarah, budayawan, dan tokoh masyarakat dalam seminar tahun 2000 lalu. Dengan sistem hitung mundur (backward counting), disepakati bahwa masa kepemimpinan La Temmamala dimulai tahun 1261. Akhirnya, lewat Perda No. 09 Tahun 2001, resmilah 23 Maret jadi hari jadi kita tercinta.
Dari Kerajaan ke Kabupaten Modern
Sepanjang sejarahnya, Soppeng sudah dipimpin oleh 36 Datu (Raja). Datu terakhir adalah H. Andi Wana yang memerintah sampai tahun 1957.
Setelah sistem kerajaan berakhir, Soppeng berubah jadi daerah kabupaten. Sampai tahun 2026 ini, kita sudah mengalami 17 kali pergantian pimpinan daerah, termasuk pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk periode 2025-2030, yaitu Suwardi Haseng, SE dan Ir. Selle KS Dalle.
Pesan untuk Kita Semua
Sejarah Soppeng bukan cuma soal angka dan nama, tapi soal semangat “Resopa Temmangingi Namalomo Naletei Pammase Dewata”—bahwa kerja keras yang konsisten pasti akan membuahkan hasil dengan izin Tuhan.
Mari kita jaga warisan budaya ini dengan terus berkarya untuk Soppeng yang lebih baik!
Share artikel ini kalau kamu bangga jadi orang Soppeng! 🦇✨

mantap pung
Terima kasih. Iye, siapa tau ada saran dan masukan untuk perbaikan ke deoannya demi untuk arsip digital sejatah Bumi la Temmamala.